UmarBin Abdul Aziz ditunjuk sebagai Gubernur Madinah bulan Rabiâul Awwal tahun 87 H/ 706 M oleh Khalifah al-Walid bin Abdul Malik atau al-Walid I (Khalifah ke 6, memerintah tahun 86 H/705 M sampai 97 H/715 M) untuk menggantikan Hisyam bin Ismail al-Makhzumi. Ketika itu usia Umar adalah 24 tahun.
2 Penyebab Kedua adalah banyaknya beredar Hadist-hadist palsu sehingga perlunya kodifikasi hadist yang mulai dilaksanakan secara perdana dan massal pada masa pemerintahan Khalifah Umar Ibn Abdil Aziz. Yang mereka hanya memperkuat eksistensi golongan dan ras mereka saja.
Q Pada masa khalifah bani Umayyah khalifah yang paling akhir ialah answer choices Umar bin Abdul Aziz, Walid bin Abdul Malik, Mawan bin Hakam dan Umar bin Khatab. Q. Ulama-ulama hadis yang ikut mengambil bagian dalam proses kodifikasi hadis adalah answer choices . Imam Turmizi. Imam Bukhari. Imam Muslim.
Sekalilagi ini adalah bukti bahwa proses pengajaran hadis nabi itu kadangkala menggunakan media tulisan. ini selalu muncul kepermukaan karena masih ada sementara orang yang beranggapan bahwa orang yang pertama kali menulis hadis adalah ibn Syihab az Zuhri pada masa pemerintahan khalifah umar bin abdul aziz. Fakta sejarah menyajikan sebuah
Vay Tiá»n Nhanh Chá» Cáș§n Cmnd Nợ Xáș„u. I. PENDAHULUAN Al-Hadith merupakan sumber hukum utama sesudah al-Qurâan. Keberadaan al-Hadith merupakan realitas nyata dari ajaran Islam yang terkandung dalam al-Qurâan. Hal ini karena tugas Rasul adalah sebagai pembawa risalah dan sekaligus menjelaskan apa yang terkandung dalam risalah yakni al-Qurâan. Sedangkan al-Hadith, hakikatnya tak lain adalah penjelasan dan praktek dari ajaran al-Qurâan itu sendiri. Kendati demikian, keberadaan al-Hadith dalam proses kodifikasinya sangat berbeda dengan al-Quran yang sejak awal mendapat perhatian secara khusus baik dari Rasulullah saw maupun para sahabat berkaitan dengan penulisannya. Bahkan al-Qurâan telah secara resmi dikodifikasikan sejak masa khalifah Abu Bakar al-Shiddiq yang dilanjutkan dengan Utsman bin Affan yang merupakan waktu yang relatif dekat dengan masa Rasulullah. Sementara itu, perhatian terhadap al-Hadith tidaklah demikian. Upaya kodifikasi al-Hadith secara resmi baru dilakukan pada masa pemerintahan Umar bin Abd. al-Aziz khalifah Bani Umayyah yang memerintah tahun 99-101 Hijriyah, waktu yang relatif jauh dari masa Rasulullah saw. Kenyataan ini telah memicu berbagai spekulasi berkaitan dengan otentisitas al-Hadith. Dalam makalah ini penulis akan membahas tentang definisi kodifikasi hadith, sejarah kodifikasi hadith dan faktor- faktor pendorong kodifikasi hadith. II. PEMBAHASAN A. DEFINISI KODIFIKASI HADITH Kodifikasi atau tadwin hadith secara resmi di sinonimkan dengan tadwin al hadith Rasmiyan, tentunya akan berbeda dengan penulisan hadith atau kitabah al hadith. Secara etimologi kata kodifikasi berasal kata codification yang berarti penyusunan menurut aturan/ sistem tertentu.[1] Atau dari kata tadwin dapat berarti perekaman recording, penulisan writing down, pembukuan booking, pendaftaran listing, registration. Lebih dari itu, kata tadwin juga berarti pendokumentasian, penghimpunan atau pengumpulan serta penyusunan. Maka kata tadwin tidak semata- mata berarti penulisan, namun ia mencakup penghimpunan, pembukuan dan pendokumentasian.[2] Adapun kata rasmiyan secara resmi mengandung arti bahwa suatu kegiatan dilakukan oleh lembaga administratif yang diaukui oleh masyarakat, baik langkah yang ditempuh tersebut diakui atau tidak oleh masyarakat itu sendiri. Jadi yang dimaksud dengan kodifikasi hadith secara resmi adalah penulisan hadith nabi yang dilakukan oleh pemerintah yang disusun menurut aturan dan sistem tertentu yang diakui oleh masyarakat. Adapun perbedaan antara kodifikasi hadith secara resmi dan penulisan hadith adalah a. Kodifikasi hadith secara resmi dilakukan oleh suatu lembaga administratif yang diakui oleh masyarakat, sedang penulusan hadith dilakukan oleh perorangan. b. Kegiatan kodifikasi hadith tidak hanya menulis, tapi juga mengumpulkan, menghimpun dan mendokumentasikannya. c. Tadwin hadith dilakukan secara umum yang melibatkan segala perangkat yang dianggap kompeten terhadapnya, sedang penulisan hadith dilakukan oleh orang- orang tertentu.[3] B. SEJARAH KODIFIKASI HADITH Ide penghimpunan hadith nabi secara tertulis untuk pertama kali dikemukakan oleh Khalifah Umar bin al Khattab H=633 M. Ide tersebut tidak dilaksanakan oleh Umar karena Umar merasa khawatir umat Islam akan terganggu perhatiannya dalam mempelajari al Qurâan. Pembatalan niat Umar untuk menghimpun hadith nabi itu dikemukakan sesudah beliau melakukan sholat Istikharah selama satu bulan. Kebijaksanaan Umar dapat dimengerti karena pada zaman Umar daerah Islam telah semakin luas dan hal itu membawa akibat jumlah orang yang baru memeluk Islam semakin bertambah banyak.[4] Memasuki periode tabiâin, sebenarnya kekhawatiran membukukan/ kodifikasi hadith tidak perlu terjadi, justru pada periode ini telah bertabur hadith- hadith palsu yang mulai bermunculan setelah umat Islam terpecah menjadi golongan- golongan, yang semula berorientasi politik berubah menjadi faham keagamaan, seperti Khawarij, Syiâah, murjiâah, dan lain- lain. Perpecahan ini terjadi sesaat setelah peristiwa tahkim yang merupakan rentetan peristiwa yang berasal dari terbunuhnya khalifah Umar bin Affan ra. Untuk mengukuhkan eksistensi masing- masing golongan mereka merasa perlu mencipta hadith palsu.[5] Kemudian semua karya tentang hadith dikumpulkan pada paruh akhir abad ke- 2H/ 8M atau selama abad ke-3/9M. Berbagai catatan sejarah menunjukkan bahwa di seputar awal abad ke-2H, sejumlah kecil muhadditsun ahli hadith telah mulai menulis hadith, meskipun tidak dalam himpunan yang runtut. Belakangan koleksi kecil ini menjadi sumber bagi karya-karya yang lebih besar. Meskipun begitu kebanyakan hadith yang ada dalam himpunan- himpunan besar disampaikan melalui tradisi lisan. Sebelum dicatat dalam himpunan- himpunan tersebut belum pernah dicatat di tempat manapun.[6] Ada beberapa pendapat yang berkembang mengenai kapan kodifikasi secara resmi dan serentak dimulai. 1 Kelompok Syiâah, mendasarkan pendapat Hasan al-Sadr 1272-1354 H, yang menyatakan bahwa penulisan hadis telah ada sejak masa Nabi dan kompilasi hadis telah ada sejak awal khalifah Ali bin Abi Thalib 35 H, terbukti adanya Kitab Abu Rafiâ, Kitab al-Sunan wa al-Ahkam wa al-Qadaya.. 2 Sejak abad I H, yakni atas prakarsa seorang Gubernur Mesir Abdul Aziz bin Marwan yang memerintahkan kepada Kathir bin Murrah, seorang ulama Himsy untuk mengumpulkan hadis, yang kemudian disanggah Syuhudi Ismail dengan alasan bahwa perintah Abdul Aziz bin Marwan bukan merupakan perintah resmi, legal dan kedinasan terhadap ulama yang berada di luar wilayah kekuasaannya. 3 Sejak awal abad II H, yakni masa Khalifah ke-5 Dinasti Abbasiyyah, Umar ibn Abdul Aziz yang memerintahkan kepada semua gubernur dan ulama di wilayah kekuasaannya untuk mengumpulkan hadith- hadith Nabi. Kepada Ibnu Shihab al-Zuhri, beliau berkirim surat yang isinyaâ Perhatikanlah hadis Rasulullah SAW., lalu tulislah. Karena aku mengkhawatirkan lenyapnya ilmu itu dan hilangnya para ahliâ dan kepada Abu Bakar Muhammad ibn Amr ibn Hazm, beliau menyatakan âTuliskan kepadaku hadis dari Rasulullah yang ada padamu dan hadith yang ada pada Amrah Amrah binti Abdurrahman, w. 98 H, karena aku mengkhawatirkan ilmu itu akan hilang dan lenyap.â Pendapat ketiga ini yang dianut Jumhur Ulama Hadis, dengan pertimbangan jabatan khalifah gaungnya lebih besar daripada seorang gubernur, khalifah memerintah kepada para gubernur dan ulama dengan perintah resmi dan legal serta adanya tindak lanjut yang nyata dari para ulama masa itu untuk mewujudkannya dan kemudian menggandakan serta menyebarkan ke berbagai tempat. Dengan demikian, penulisan hadith yang sudah ada dan marak tetapi belum selesai ditulis pada masa Nabi, baru diupayakan kodifikasinya secara serentak, resmi dan massal pada awal abad II H, yakni masa Umar bin AbdulâAziz, meskipun bisa jadi inisiatif tersebut berasal dari ayahnya, Gubernur Mesir yang pernah mengisyaratkan hal yang sama sebelumnya. Adapun siapa kodifikator hadis pertama, muncul nama Ibnu Shihab al-Zuhri w. 123 H, karena beliaulah yang pertama kali mengkompilasikan hadith dalam satu kitab dan menggandakannya untuk diberikan ke berbagai wilayah, sebagaimana pernyataannya âUmar bin Abdul Aziz memerintahkan kepada kami menghimpun sunnah, lalu kami menulisnya menjadi beberapa buku.â Kemudian beliau mengirimkan satu buku kepada setiap wilayah yang berada dalam kekuasaannya. Demikian pandangan yang dirunut sebagian besar sejarawan dan ahli Hadith. Adapun ulama yang berpandangan Muhammad Abu Bakr ibn Amr ibn Hazm yang mengkodifikasikan hadith pertama, ditolak oleh banyak pihak, karena tidak digandakannya hasil kodifikasi Ibn Amr ibn Hazm untuk disebarluaskan ke berbagai wilayah. Meski demikian, ada juga yang berpendapat bahwa kodifikator hadith sebelum adanya instruksi kodifikasi dari Khalifah Umar ibn Abdul Aziz telah dilakukan, yakni oleh Khalid bin Maâdan w. 103 H. Rasyid Ridha 1282-1354 H berpendapat seperti itu, berdasar periwayatan, Khalid telah menyusun kitab pada masa itu yang diberi kancing agar tidak terlepas lembaran-lembarannya. Namun pendapat ini ditolak Ajjaj al-Khatib, karena penulisan tersebut bersifat individual, dan hal tersebut telah dilakukan jauh sebelumnya oleh para sahabat. Terbukti adanya naskah kompilasi hadis dari abad I H, yang sampai kepada kita, yakni al-Sahifah al-Sahihah.[7] Diantara buku-buku yang muncul pada masa ini adalah 1 Al-Muwaththaâ yang ditulis oleh Imam Malik 2 Al-Mushannaf oleh Abdul Razzaq bin Hammam Ash-Shanâani 3 As-Sunnah ditulis oleh Abd bin Manshur 4 Al-Mushannaf dihimpun oleh Abu Bakar bin Syaybah, dan 5 Musnad Asy-Syafiâi.[8] Teknik pembukuan hadith- hadith pada periode ini sebagaimana disebutkan pada nama-nama tersebut, yaitu al-mushannaf, al-muwaththaâ, dan musnad. Arti istilah-istilah ini adalah a. Al-Mushannaf dalam bahasa diartikan sesuatu yang tersusun. Dalam istilah yaitu teknik pembukuan hadits didasarkan pada klasifikasi hukum fiqh dan didalamnya mencantumkan hadith marfuâ, mauquf, dan maqthuâ. b. Al-Muwatththaâ dalam bahasa diartikan sesuatu yang dimudahkan. Dalam istilah Al-Muwaththaâ diartikan sama dengan Mushannaf. c. Musnad dalam bahasa tempat sandaran sedang dalam istilah adalah pembukuan hadith yang didaarkan pada nama para sahabat yang meriwayatkan hadith tersebut Tulisan-tulisan hadith pada masa awal sangat penting sebagai dokumentasi ilmiah dalam sejarah, sebagai bukti adanya penulisan hadith sejak zaman Rasululloh, sampai dengan pada masa pengkodifikasian resmi dari Umar bin abdul aziz, bahkan sampai pada masa sekarang.[9] Aktifitas Ulama dalam kodifikasi hadith sejak Abad II H. 1. Kodifikasi Hadith Abad II H. Pada abad kedua, para ulama dalam aktifitas kodifikasi hadith tidak melakukan penyaringan dan pemisahan, mereka tidak membukukan hadith- hadith saja, tetapi fatwa sahabat dan tabiâin juga dimasukkan ke dalam kitab- kitab mereka. Dengan kata lain, seleksi hadith pada abad kedua ini disamping memasukkan hadithâ hadith nabi juga perkataan para sahabat dan para tabiâin juga dibukukan, sehingga dalam kitab- kitab itu terdapat hadith- hadith marfuâ, hadith mawquf dan hadith maqthuâ.[10] 2. Kodifikasi Hadith Abad III H. Abad ketiga Hijriah ini merupakan masa penyaringan dan pemisahan antara sabda Rasulullah dengan fatwa sahabat dan tabiâin. Masa penyeleksian ini terjadi pada zaman Bani Abbasyiyah, yakni masa al- Maâmun sampai al- Muktadir sekitar tahun 201- 300 H. Periode penyeleksian ini terjadi karena pada masa tadwin belum bias dipisahkan antara hadith marfuâ, mawquf, dan maqthuâ, hadith yang dhaif dari yang sahih ataupun hadith yang mawdhuâ masih tercampur dengan sahih. Pada saat ini pula mulai dibuat kaidah- kaidah dan syarat- syarat untuk menentukan apakah suatu hadith itu sahih atau dhaif. Para periwayat hadith pun tidak luput dari sasaran penelitian mereka untuk diteliti kejujuran, kekuatan hafalan, dan lain sebagainya.[11] 3. Kodifikasi Hadith Abad IV- VII H. Kalau abad pertama, kedua, dan ketiga, hadith berturut- turut mengalami masa periwayatan, penulisan, pembukuan, serta penyaringan dari fatwa- fatwa sahabat dan tabiâin, yang system pengumpulan hadith nya di dasarkan pada usaha pencarian sendiri untuk menemui sumber secara langsung kemudian menelitinya, maka pada abad keempat dan seterusnya digunakan metode yang berlainan. Demikian pula, ulama yang terlihat pada sebelum abad ke empat disebut ulama mutaqaddimun dan ulama yang terlibat dalam kodifikasi hadith pada abad keempat dan seterusnya disebut ulama mutaakhirin. Pembukuan hadith pada periode ini lebih mengarah pada usaha mengembangkan variasi pen- tadwinâ an terhadap kitab- kitab hadith yang sudah ada. Maka, setelah beberapa tahun dari kemunculan al kutub al- sittah, al- Muwaththaâ Imam Malik ibn Anas, dan al Musnad Ahmad ibn Hanbal, para ulama mengalihkan perhatian untuk menyusun kitab- kitab yang berbentuk jawamiâ, takhrij, athraf, syarah, dan mukhtashar, dan menyusun hadith untuk topik- topik tertentu.[12] 4. Kodifikasi Hadith Abad VII- sekarang. Kodifikasi hadith yang dilakukan pada abad ketujuh dilakukan dengan cara menertibkan isi kitab- kitab hadith, menyaringnya, dan menyusun kitab- kitab takhrij, membuat kitab- kitab jamiâ yang umum, kitab- kitab yang mengumpulkan hadith- hadith hukum, men takhrij hadith- hadith yang terdapat dalam beberapa kitab, men- takhrij hadith- hadith yang terkenal di masyarakat, menyusun kitab athraf, mengumpulkan hadith- hadith disertai dengan menerangkan derajatnya, mengumpulkan hadith- hadith dalam shahih al- Bukhari dan Shahih Muslim, men- tashih sejumlah hadith yang belum di tashih oleh ulama sebelumnya, mengumpulkan hadith- hadith tertentu sesuai topik, dan mengumpulkan hadith dalam jumlah tertentu.[13] C. FAKTOR- FAKTOR PENDORONG KODIFIKASI HADITH Ada tiga hal pokok yang melatar belakangi mengapa khalifah Umar bin Abd Aziz melakukan kodifikasi hadith 1. Beliau khawatir hilangnya hadith- hadith, dengan meninggalnya para ulama di medan perang. Ini adalah faktor utama sebagaimana yang terlihat dalam naskah surat- surat yang dikirimkan kepada para ulama lainnya. 2. Beliau khawatir akan tercampurnya antara hadith- hadith yang shahih dengan hadith- hadith palsu. 3. Dengan semakin meluasnya daerah kekuasaan Islam, sementara kemampuan para tabiâin antara satu dengan yang lainnya tidak sama jelas sangat memerlukan adanya kodifikasi ini.[14] Dengan demikian faktor terpenting pendorong dilakukannya pengkodifikasian hadith adalah untuk menyelamatkan hadith- hadith nabi dari kepunahan dan pemalsuan. D. PENENTU KEBIJAKAN KODIFIKASI DAN ULAMA YANG TERLIBAT DI DALAMNYA Para ulama salaf dari kalangan sahabat dan tabiâin berbeda pendapat penulisan hadith dalam beberapa pendapat a. Sebagian mereka membencinya, diantaranya adalah Ibnu Umar dan Ibnu Masâud serta Zaid bin Tsabit. b. Sebagian lain membolehkannya, diantaranya adalah Abdullah bin Ameer dan Anas, Umar bin Ibnu Abdul Aziz serta kebanyakan para sahabat. c. Kemudian mereka sepakat untuk membolehkannya, dan hilanglah perbedaan. Dan seandainya hadith tidak dibukukan dalam kitab- kitab niscaya akan sirnalah dalam masa akhir terutama dimasa kita sekarang.[15] Sedangkan ulama yang terlibat di dalam kodifikasi hadith antara lain 1. Khalifah Umar bin Abdul Aziz. memerintah mulai tahun 99-101 H. Beliaulah yang memerintahkan adnya pembukuan hadith dengan alasan kuatir lenyapnya ajaran- ajaran nabi berhubung telah banyak ulama dan sahabat yang wafat. Karena itu beliau menginstruksikan kepada para gubernur dari semua daerah Islam supaya menghimpun dan menulis hadith- hadith nabi.[16] 2. Abdul Malik bin Abdul Aziz -150 H di Makkah. 3. Malik bin Anas 93-179 H dan Muhammad bin Ishaq -151 H di Madinah. 4. Muhammad ibnu Abdurrahman bin Dziâib 80-158 H di Makkah. 5. Rabiâ bin Sabih -160 H, Saâid bin Arubah -156 H dan Hammad ibn Salamah -167 H di Basrah. 6. Sufyan al-Thauri 97-161 H di Kufah, Khalid ibn Jamil al-âAbd dan Maâmar ibn Rashid 95-153 H di Yaman. 7. Abdurrahman bin Amr al-Auzaâi 88-157 H di Sham. 8. âAbdullah ibn al-Mubarak 118-181 H di Khurasan. 9. Hashim ibnu Bushair 104-183 H di Wasit. 10. Jarir ibn Abdul Hamid 110-188 H di Rayy. 11. Abdullah ibn Wahb 125-197 H di Mesir.[17] Proses kodifikasi pada masa ulama Ibnu Abdul Aziz Untuk keperluantadwin ini, sebagai khalifah Umarmemberikan instruksi kepada Abu Bakar ibn Muhammad ibn Hazm, seorang gubernur Madinah agar mengumpulkan dan menghimpun hadith- hadith yang ada pada Amrah binti Abd al- Rahman al- Anshari dan al- Qasim ibn Muhammad ibn Abu Bakar. Instruksi untuk mengumpulkan dan mengkodifikasikan hadith juga disampaikan kepada Muhammad ibn Syihab al- Zuhri, seorang ulama besar di negeri Hijaz dan Syam. Al- Zuhri menggalang agar para ulama hadith mengumpulkan hadith di masing- masing daerah mereka, dan ia berhasil menghimpun hadith dalam satu kitab sebelum khalifah meninggal dunia yang kemudian dikirimkan oleh khalifah ke berbagai daerah untuk bahan penghimpunan hadith selanjutnya.[18] III. ANALISIS Dari pemaparan tentang kodifikasi hadith diatas penulis sangat sependapat dengan usaha pengkodifikasian hadith yang di prakarsai oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Dengan alasan- alasan kuat yang diajukan oleh Khalifah Umar penulis menganggap pelaksanaan kodifikasi sangat di perlukan untuk dilakukan. Selain untuk menjaga ajaran- ajaran Nabi Muhammad SAW, pengkodifikasian juga diperlukan untuk menghindari pemalsuan hadith Nabi. Hal ini perlu dilakukan karena hadith merupakan salah satu pedoman umat Islam dalam menjalankan syariâah. Peran hadith dinilai sangat penting karena kedudukannya sebagai penjelas ayat- ayat yang belum jelas. Banyak ayat- ayat al Qurâan yang memerintahkan melaksanakan ibadah-ibadah tertentu, akan tetapi tidak menjelaskan caranya. Misalnya sholat dan haji. Dan bagaimana cara pelaksanaan sholat dan haji dijelaskan dalam hadith nabi. Dengan demikian pengkodifikasian hadith perlu mendapat apresiasi yang tinggi terhadap pelopor dan pelaksananya. IV. KESIMPULAN Rencana untuk mengumpulkan hadith- hadith nabi pertama dimulai oleh Khalifah Umar bin Khattab. Namun dengan berbagai pertimbangan rencana tersebut batal dilaksanakan. Alasan utamanya adalah karena waktu itu masih berlangsung pengumpulan al Qurâan. Sedangkan kodifikasi secara resmi dilakukan pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Abdul Aziz. Khalifah Umar memerintahkan kepada para gubernur untuk mengumpulkan dan melakukan pembukuan terhadap hadith. Ulama yang terlibat di dalam kodifikasi hadith antara lain Khalifah Umar bin Abdul Aziz. memerintah mulai tahun 99-101 H. Abdul Malik bin Abdul Aziz -150 H di Makkah. Malik bin Anas 93-179 H dan Muhammad bin Ishaq -151 H di Madinah. Muhammad bin Abdurrahman bin Dziâib 80-158 H di Makkah. Rabiâ bin Sabih -160 H, Saâid bin Arubah -156 H dan Hammad ibn Salamah -167 H di Basrah. Sufyan al-Thauri 97-161 H di Kufah, Khalid ibn Jamil al-âAbd dan Maâmar ibn Rashid 95-153 H di Yaman. Abdurrahman bin Amr al-Auzaâi 88-157 H di ibn al-Mubarak 118-181 H di Khurasan. Hashim ibnu Bushair 104-183 H di Wasit. Jarir ibn Abdul Hamid 110-188 H di Rayy. Abdullah ibn Wahb 125-197 H di Mesir. DAFTAR PUSTAKA Arifin, Zainul, Studi Hadis, Surabaya Alpha, 2005. al- Asqalani, Ahmad bin Ali bin Hajar, fath al Bari, juz I. Echols, John, M. Hasan shadily, Kamus Inggris Indonesia, Jakarta Gramedia,1996. Idri, Studi Hadis, Jakarta Kencana, 2010. Ismail, Syuhudi, Hadis Nabi Menurut Pembela, Pengingkar dan Pemalsunya, Jakarta Gema Insani Press, 1995. Jaâfariyan, Rasul, Penulisan dan Penghimpunan Hadith kajian histori, Lentera, 1992. Najwah,Nurun, Ranuwijaya, Utang, Ilmu Hadis, Jakarta Radar Jaya, 1996 Thahan, Mahmud, Ulumul Hadith, Studi Komplesitas hadith nabi, penerjemah, Zainul Muttaqin, Yogyakarta Titian Ilahi Press & LP2KI, 1997. Zuhri, M., Hadits Nabi, Telaah Historis dan Metodologis, Yogyakarta Tiara Wacana, 1997. [1] John Echols, M. Hasan shadily, Kamus Inggris Indonesia, Jakarta Gramedia,1996, 122. [2] Zainul Arifin, Studi Hadis, Surabaya Alpha, 2005, 34. [3] Ibid, 35. [4] Syuhudi Ismail, Hadis Nabi Menurut Pembela, Pengingkar dan Pemalsunya, Jakarta Gema Insani Press, 1995, 49. [5] M. Zuhri, Hadits Nabi, Telaah Historis dan Metodologis, Yogyakarta Tiara Wacana, 1997,52. [6] Rasul Jaâfariyan, Penulisan dan Penghimpunan Hadith kajian histori, Lentera, 1992, 23. [8] Masjfuk Zuhdi, Pengantar Ilmu Hadis, Surabaya Bina Ilmu, 1993, 85 [10] Idri, Studi Hadis, Jakarta Kencana, 2010, 95. [11] Ibid, 97. [12] Ibid, 99. [13] Ibid, 101. [14] Utang Ranuwijaya, Ilmu Hadis, Jakarta Radar Jaya, 1996, 68. [15] Mahmud Thahan, Ulumul Hadith, Studi Komplesitas hadith nabi, penerjemah, Zainul Muttaqin, Yogyakarta Titian Ilahi Press & LP2KI, 1997, 194. [16] Masjfuk Zuhdi, Pengantar Ilmu Hadis, 85. [18] Ahmad bin Ali bin Hajar al- Asqalani, fath al Bari, juz I, 195.
â Sebagai umat Islam mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan sejarah Islam adalah yang wajar dan sangat baik, terutama tentang sejarah kodifikasi hadits. Banyak sekali umat Islam yang belajar hadits dan ulumul hadits, akan tetapi jarang mereka mengkaji sejarah pembukuannya. Oleh sebab itu, pada kesempatan kali ini penulis akan memaparkan tentang sejarah kodifikasi hadits Pembukuan hadits. Disusun oleh Muhammad Nasikhul Abid 19204010129Mahasiswa S2 Program studi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga YogyakartaTugas Mata Kuliah Studi Hadits dalam Perspektif Pendidikan Islam Dosen Pengampu Prof. Dr. Hj. Marhumah, Pengertian Kodifikasi Hadits Kata kodifikasi dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah tadwin yang merupakan bentuk masdar dari dawwana, yudawwinu, tadwiinan yang berarti pembukuan. Pembukuan adalah mengumpulkan sesuatu yang tertulis dari lembaran-lembaran dan hafalan yang ada di dalam dada, kemudian menyusunnya hingga menjadi satu kitab.[1] Jadi kodifikasi berbeda dengan menulis, karena menulis belum tentu disusun menjadi buku, sedangkan kodifikasi tulisan yang telah dibukukan. Baca juga Keutamaan Shalat Dhuha Menurut Hadits Shahih Faktor-faktor Kodifikasi Hadits Upaya pembukuan hadits secara resmi ini dilatar belakangi oleh beberapa faktor, di antaranya Al-Qurâan telah dibukukan dan tersebar luas, sehingga tidak dikhawatirkan lagi akan bercampur dengan hadits. Para perawi hadits telah banyak yang meninggal. Jika hadits tidak segera ditulis dan dibukukan, maka lama kelamaan hadits akan hilang bersama dengan meninggalnya perawi hadits. Daerah kekuasaan Islam semakin luas dan peristiwa-peristiwa umat Islam semakin kompleks, sehingga memerlukan petunjuk dari hadits sebagai sumber agama. Pemalsuan hadits semakin merajalela. Jika kejadian tersebut dibiarkan, maka akan mengancam kemurnian dan kelestarian hadits.[2] Download Buku Telaah Kritis atas Doktrin Faham Wahabi/ Salafi Sejarah Kodifikasi Pembukuan Hadits Secara resmi, kodifikasi hadits dilakukan dan dimulai pada masa Dinasti Umayyah yang dipimpin oleh Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah yang terkenal adil dan waraâ hingga beliau disebut sebagai khalifah Rasyidin yang ke lima. Beliau menetapkan dan memerintah ulama-ulama pada masanya untuk melakukan kodifikasi hadits disebabkan karena kesadaran beliau atas banyaknya para perawi hadits semakin lama banyak yang meninggal. Sehingga beliau khawatir jika hadits tidak segera dibukukan maka akan hilang dan lenyap.[3] Di bawah ini akan dijelaskan 7 periode sejarah kodifikasi hadits, sebagai berikut Periode pertama adalah periode pada zaman Rasulullah SAW. Pada periode ini dikenal dengan masa turunnya wahyu dan pembentukan masyarakat Islam.[4] Sehingga pada awal-awal kemajuan Islam Rasulullah SAW melarang para shahabatnya untuk menulis hadits, karena disamping akan bercampurnya hadits dengan Al-Qurâan juga agar umat Islam lebih fokus pada Al-Qurâan.[5] Akan tetapi dengan berjalannya waktu tidak sedikit di antara para shahabat banyak yang berinisiatif menulis hadits-hadits Nabi SAW. Hal tersebut dikarenakan selain melarang, Rasulullah di lain waktu juga membolehkan para shahabatnya untuk menulis hadits. Sehingga banyak di antara para shahabat yang memiliki shahifah hadits, di antaranya Abdullah bin Amr bin Ash, Jabir bin Abdullah Al-Anshari, Abdullah bin Abi Aufa, Samurah bin Jundab, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Abbas, dan Abu Bakar Ash-Shiddiq.[6] Periode kedua adalah dimulai pada zaman Khulafa Ar-Rasyidin. Pada periode ini dikenal dengan masa pembatasan atau pengurangan dalam periwayatan hadits Nabi SAW sebagai bentuk kehati-hatian. Usaha para shahabat dalam membatasi periwayatan hadits dilatar belakangi oleh rasa khawatir akan terjadinya kekeliruan. Hal ini dikarenakan suasana pada waktu itu tidak kondusif, bahkan terjadi perpecahan dan fitnah di dalam umat Islam itu sendiri,[7] di antaranya munculnya nabi palsu, terbunuhnya Umar, Usman, dan Ali, banyak shahabat yang tidak suka kepada Usman, munculnya Syiâah, dll. Sehingga para shahabat sangat berhati-hati dalam menerima kegiatan periwayatan hadits. Para shahabat pada periode ini meriwayatkan hadits melalui dua cara, yaitu bilafdzi dan bilmakna.[8] Periode ketiga adalah masa penyebaran hadits ke berbagai wilayah. Periode ini berlangsung pada masa shahabat kecil/ muda dan tabiâin atau pada masa Dinasti Muawwiyah sampai pada akhir abad 1 Hijriyah. Pada masa ini wilayah Islam sudah sampai ke Syam Suriah, Irak, Mesir, Persia, Samarkand, hingga Spanyol. Bertambahnya wilayah Islam berdampak pada tersebarnya hadits di dalamnya.[9] Periode Keempat adalah Periode penulisan dan pembukuan hadits secara resmi. Penulisan dan pembukuan hadits ini dimulai setelah adanya perintah resmi dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz 717 â 720 M. Perintah resmi tersebut sebagai instruksi langsung dari Umar untuk seorang Ulama yang bernama Abu Bakar Muhammad Amr bin Hazm Ibnu Shihab Az-Zuhri yang menjabat sebagai Gubernur Madinah agar menuliskan hadits Nabi Muhammad SAW.[10] Latar belakang Umar bin Abdul Aziz menginstruksikan agar mengkodifikasi hadist adalah karena kekhawatiran akan hilangnya hadits seiring meninggalnya para perawi hadits dan khawatir akan bercampurnya hadits Nabi SAW dengan hadits palsu. Pengkodifikasian hadits ini berlangsung hingga pemerintahan Bani Abbasiyah tepatnya pada pertengahan awal abad ke III H. Pada periode ini banyak melahirkan ulama hadits, seperti Ibnu Juraij w. 179 H di Makkah, Ibnu Shihab Az-Zuhri w. 124 H, Ali Ishaq w. 151 H dan Imam Malik w. 179 H di Madinah, Ar-Rabiâ bin Shihab w. 160 H dan Abdurrahman Al-Auzaâi w. 156 H di Suriah.[11] Selain itu juga termasuk imam Syafiâi w. 204 H di Mesir dan Imam Ahmad bin Hanbal w. 241 H di Baghdad.[12] Pada periode ini juga menghasilkan karya kitab-kitab hadits, di antaranya Al-Musnad Imam Syafiâi, Al-Mushanaf Imam Al-Auzaâi, dan Al-Muwaththaâ Imam Malik, termasuk juga Al-Musnad Imam Ahmad. Dan kitab hadits pada periode ini masih bercampur dengan fatwa shahabat, tabiâin, hingga hadits palsu karena belum ada penyeleksian secara penuh.[13] Periode kelima adalah periode pemurnian, penyehatan, dan penyempurnaan. Periode ini berangsung sekitar pertengah awal abad ke III Hijriyah, atau tepatnya pada masa Dinasti Abbasiyah yang dipimpin oleh Khalifah Al-Maâmun sampai Al-Muâtadir.[14] Periode ini ulama-ulama mengadakan gerakan penyeleksian, penyaringan, dan pengklasifikasian hadits, yakni memisahkan hadits yang marfuâ dari hadits mauquf dan maqtuâ. Pada periode ini lahirlah kitab induk hadits Kutubus Sittah, di antaranya Al-Jamiâ Ash-Shahih karya Imam Al-Bukhari 194 â 252 H Al-Jamiâ Ash-Shahih karya Imam Muslim 204 â 261 H Sunan Abu Dawud karya Abu Dawud 202 â 261 H Sunan At-Tirmidzi karya At-Tirmidzi 200 â 279 H Sunan An-Nasaâi karya An-Nasaâi 215 â 302 H Sunan Ibnu Majah karya Ibnu Majah 207 â 273 H[15] Periode keenam adalah masa pemeliharaan, penerbitan, penambahan, dan penghimpunan. Periode ini berlangsung 2 setengah abad, mulai dari abad IV sampai pertengahan abad ke VII Hijriyah, tepatnya pada saat Dinasti Abbasiyah jatuh ke tangan Hulagu Khan pada tahun 656 H. Periode ini tidak jauh berbeda dengan periode kelima, sehingga periode ini juga melahirkan banyak ulama dan kitab hadits, di antaranya Sulaiman bin Ahmad At-Thabari, karyanya Al-Muâjam Al-Kabir, Al-Muâjam Al-Ausath, Al-Muâjam Ash-Shaghir. Abdul Hasan Ali bin Umar bin Ahmad Ad-Daruquthni, karyanya Sunan Daruquthni. Ibnu Huzaimah Muhammad bin Ishaq, karyanya Shahih Ibnu Huzaimah. Abu Bakar Ahmad bin Husain Ali Al-Baihaqi, karyanya Sunan Al-Kubra. Asy-Syaukani, karyanya Nailul Authar. Muhyiddin Abu Zakaria An-Nawawi, karyanya Riyadhush Shalihin, dll.[16] Periode Ketujuh adalah periode pensyarahan, penghimpunan, dan pentakhrijan. Pada periode ini ulama mulai mensistemasi hadits-hadits berdasarkan kehendak penyusun, memperbaharui kitab-kitab mustkharij dengan cara membagi-bagi hadits menurut kualitasnya. Para periode ini hanya sedikit ulama hadits yang masih mampu menyampaikan periwayatan hadits beserta sanadnya secara hapalan yang sempurna, di antaranya ulama yang masih menyampaikan hadits secara hapalan sempurna adalah Imam Al-Iraqy w. 806 H, Ibnu Hajar Al-Asqalani w. 852 H, As-Sakhawy w. 902 H.[17] Ketiganya mempunyai hubungan sebagai guru dan murid. Footnote [1] Mannaâ Al-Qaththan, Mabahis fi Ulum Al-Hadits, Kairo Maktabah Wahbah, Cet. ke-II, 1994, hlm. 33. [2] Munzier Suparta, Ilmu Hadits, Jakarta Rajawali Pers, Cet. ke-7, 2010, hlm. 88. [3] Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Qurâan dan Tafsir, SemarangPustaka Rizki Putra, 2009, Ed. 3, [4] Muhajirin, Ulumul Hadits II, Palembang NoerFikri Offset, 2016, hlm. 18. [5] Atang Abdul Hakim, Metodologi Studi Islam, Bandung Remaja Rosdakarya, 2003, hlm. 89. [6] Muhajirin, Ulumul Hadits II, Palembang NoerFikri Offset, 2016, hlm. 19. [7] Atang Abdul Hakim, Metodologi Studi Islam, Bandung Remaja Rosdakarya, 2003, hlm. 90. [8] Muhajirin, Ulumul Hadits II, Palembang NoerFikri Offset, 2016, hlm. 20. [9] Ibid., hlm. 20 [10] Munzier Suparta, Ilmu Hadits, Jakarta Rajawali Pers, Cet. ke-7, 2010, hlm. 75. [11] Ibid., hlm. 91. [12] Muhajirin, Ulumul Hadits II, Palembang NoerFikri Offset, 2016, hlm. 20-21. [13] Ibid., hlm. 21. [14] Abudin Nata, Al-Qurâan dan Hadits, Jakarta LISK, 2000, hlm. 197. [15] Muhajirin, Ulumul Hadits II, Palembang NoerFikri Offset, 2016, hlm. 21. [16] Ibid., hlm. 22-23. [17] Fathur Rahman, Ikhtishar Musthalahul Hadits, Bandung Al-Maâarif, 1974, hlm. 296. Daftar Pustaka Abdul Hakim, Atang. 2003. Metodologi Studi Islam. Bandung Remaja Rosdakarya. Al-Qaththan, Mannaâ. 1994. Mabahis fi Ulum Al-Hadits. Kairo Maktabah Wahbah, Cet. ke-II. Hasbi Ash-Shiddieqy, 2009. Muhammad. Sejarah dan Pengantar Ilmu Qurâan dan Tafsir. SemarangPustaka Rizki Putra, Ed. 3. Muhajirin. 2016. Ulumul Hadits II, Palembang NoerFikri Offset. Nata, Abudin. 2000. Al-Qurâan dan Hadits. Jakarta LISK. Rahman, Fathur. 1974. Ikhtishar Musthalahul Hadits. Bandung Al-Maâarif. Suparta, Munzier. 2010. Ilmu Hadits. Jakarta Rajawali Pers, Cet. ke-7.
Hadis Nabawi atau Sunnah Nabawiyyah adalah satu dari dua sumber syariat Islam setelah Al-Quran. Fungsi hadits dalam syariat Islam sangat strategis. Diantara fungsi hadis yang paling penting adalah menafsirkan Al-Qur`an dan menetapkan hukum-hukum lain yang tidak terdapat dalam Al-Qur`an. Begitu pentingnya kedudukan hadits, pantas jika salah seorang ulama berkata, âAl-Qur`an lebih membutuhkan kepada Sunnah daripada Sunnah kepada Al-Qur`an.âDahulu, para sahabat yang biasa mendengarkan perkataan Nabi dan menyaksikan tindak-tanduk dan kehidupan Nabi secara langsung, jika mereka berselisih dalam menafsirkan ayat Al-Quran atau kesulitan dalam menentukan suatu hukum, mereka merujuk kepada hadits Nabi. Mereka sangat memegang teguh sunnah yang belum lama diwariskan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebagai pelengkap wahyu yang turun untuk seluruh jaman kenabian, hadis adalah ilmu yang mendapat perhatian besar dari kaum muslimin. Hadits mendapat tempat tersendiri di hati para sahabat, tabiâin dan orang-orang yang datang setelah mereka. Setelah Al-Quran, seseorang akan dimuliakan sesuai dengan tingkat keilmuan dan hapalan hadisnya. Karena itu, mereka sangat termotivasi untuk mempelajari dan menghafal hadis-hadis Nabi melalui proses periwayatan. Tidak heran, jika sebagian mereka sanggup menumpuh perjalanan beribu-ribu kilometer demi mencari satu hadits awal pertumbuhan ilmu hadis ini, kaum muslimin lebih cenderung bertumpu pada kekuatan hapalannya tanpa menuliskan hadis-hadis yang mereka hapal sebagaimana yang mereka lakukan dengan Al-Qur`an. Kemudian, ketika sinar Islam mulai menjelajah berbagai negeri, wilayah kaum muslimim semakin meluas, para sahabat pun menyebar di sejumlah negeri tersebut dan sebagiannya sudah mulai meninggal dunia serta daya hapal kaum muslimim yang datang setelah mereka sedikit lemah, kaum muslimin mulai merasakan pentingnya mengumpulkan hadis dengan SahabatMasa Tabiâin dan setelahnyaMasa SahabatSebetulnya, kodifikasi penulisan dan pengumpulan hadis telah dilakukan sejak jaman para sahabat. Namun, hanya beberapa orang saja diantara mereka yang menuliskan dan menyampaikan hadis dari apa yang mereka tulis. Disebutkan dalam shahih al-Bukhari, di Kitab al-Ilmu, bahwa Abdullah bin Amr biasa menulis hadis. Abu Hurairah berkata, âTidak ada seorang pun dari sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang lebih banyak hadisnya dari aku kecuali Abdullah bin Amr, karena ia biasa menulis sementara aku tidak.âNamun, kebanyakan mereka hanya cukup mengandalkan kekuatan hapalan yang mereka miliki. Hal itu diantara sebabnya adalah karena di awal-awal Islam Rasulullah sempat melarang penulisan hadis karena khawatir tercampur dengan Al-Qur`an. Dari Abu Saâid al-Khudri, Bahwa Rasulullah bersabda, âJanganlah menulis dariku! Barangsiapa menulis dariku selain Al-Quran, maka hapuslah. Sampaikanlah dariku dan tidak perlu segan..â HR MuslimMasa Tabiâin dan setelahnyaTradisi periwayatan hadis ini juga kemudian diikuti oleh tokoh-tokoh tabi`in sesudahnya. Hingga datang masa kepemimpinan khalifah kelima, Umar Ibn Abdulâaziz. Dengan perintah beliau, kodifikasi hadits secara resmi Bukhari mencatat dalam Shahihnya, kitab al-ilmu, âDan Umar bin Abdul aziz menulis perintah kepada Abu Bakar bin Hazm, âLihatlah apa yang merupakan hadis Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam lalu tulislah, karena sungguh aku mengkhawatirkan hilangnya ilmu dan lenyapnya para ulama.âIbnu Hajar mengatakan, âDapat diambil faidah dari riwayat ini tentang permulaan kodifikasi hadis nabawi. Dahulu kaum muslimin mengandalkan hapalan. Ketika Umar bin Abdul aziz merasa khawatir âpadahal beliau ada di akhir abad pertama- hilangnya ilmu dengan meninggalnya para ulama, beliau memandang bahwa kodifikasi hadis itu dapat Nuâaim meriwayatkan dalam tarikh ashfahan kisah ini dengan redaksi, âUmar bin Abdul aziz memerintahkan kepada seluruh penjuru negeri, âlihatlah hadis Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan kumpulkanlah.âDiantara yang pertama kali mengumpulkan hadis atas perintah Umar bin Abdul aziz adalah Muhammad bin Muslim, ibnu Syihab az-Zuhry, salah seorang ulama ahli Hijaz dan Syam. Setelah itu, banyak para ulama yang menuliskan hadis-hadis Rasulullah dan mengumpulkannya dalam kitab Mekah ada Ibnu Juraij w 150 H dengan kitab âas-sunanâ, âat-Thaharahâ, âas-shalahâ, âat-tafsirâ dan âal-Jaamiâ. Di madinah Muhammad bin Ishaq bin Yasar w 151 H menyusun kitab âas-sunanâ dan âal-Maghaziâ, atau Malik bin Anas w 179 H menyusun âal-Muwaththaâ. Di Bashrah Saâid bin Arubah w 157 H menyusun âas-sunanâ dan âat-tafsiirâ, Hammad bin Salamah w 168 H menyusun âas-sunanâ. Di Kufah Sufyan ast-Tsauri w 161 H menyusun âat-Tafsirâ, âal-Jami al-Kabirâ, al-Jami as-Shaghirâ, âal-Faraaidhâ, âal-ItiqadâAl-AuzaâI di Syam, Husyaim di Washith, Maâmar di Yaman, Jarir bin Abdul hamid di ar-Rai, Ibnul Mubarak di Khurasan. Semuanya adalah para ulama di abad ke dua. Kumpulan hadis yang ada pada mereka masih bercampur dengan perkataan para sahabat dan fatwa para ulama tabiâ juga penulisan hadis ini menjadi tradisi ulama setelahnya di abad ke tiga dan seterusnya. Hingga datang zaman keemasan dalam penulisan hadis. Ia adalah periode Kitab Musnad Ahmad dan kutub sittah. Diantaranya adalah dua kitab shahih. Al-Imam al-Bukhari, seorang ulama hadis jenius yang memiliki kedudukan tinggi, menulis dan mengumpulkan hadis-hadis shahih dalam satu kitab yang kemudian terkenal dengan nama âshahih al-Bukhariâ. Diikuti setelahnya oleh al-Imam Muslim dengan kitab âshahih muslimâ.Tidak hanya itu, zaman keemasan ini telah menelurkan kitab-kitab hadis yang hampir tidak terhitung jumlahnya. Dalam bentuk majaami, sunan, masanid, ilal, tarikh, ajzaa` dan lain-lain. Hingga, tidak berlalu zaman ini kecuali sunnah seluruhnya telah tertulis. Tidak ada riwayat yang diriwayatkan secara verbal yang tidak tertulis dalam kitab-kitab itu kecuali riwayat-riwayat yang tidak UtamaMuqaddimah Mushahhih Kitab âMaârifah Ulum al-Hadisâ, al-Hakim al-Muqtarah lii fahmi al-Musthalah, Syaikh DR. Syarif Hatim al-AuniFathul Bariy, al-Hafidz ibnu
S S Se ej a r ra a h h K K Ke b bu u d da a y y y a a a an I sl a am m m K Kur iik u ul um m 2 13 23 MENGAMATI Setelah mengamati nilai-nilai karakter di atas dapat disimpulkan bahwa kedisplinandan istiqamah adalah sikaf yang sangat penting dalam sebuah pemerintahan. MARI BERTANYA Setelah mengamati kasus tersebut di atas, maka apa yang dapat dituliskan ? - - - - TAMBAH WAWASAN 1. PROSES KODIFIKASI HADIS MASA KHALIFAH UMAR BIN ABDUL AZIZ Pengumpulan dan penyempurnaan hadis terjadi pada masa pemerintahan khalifah ke- Bani Umayyah, Umar bin Abdul Aziz tahun â . Khalifah Umar menginstruksikan kepada gubernur Madinah yang memerintah pada waktu itu agar segera mengumumkan pada masyarakat umum tentang gerakan penghimpunan dan penyempurnaan hadis. Kebijakan tersebut dilakukan oleh khalifah Umar karena kondisi di lapangan, hadis telah diselewengkan dan telah bercampur aduk dengan ucapan-ucapan israiliyat, hadis difungsikan untuk menguatkan kedudukan kelompok-kelompok tertentu seperti, Bani Umayyah, kelompok khawarij dan kelompok syiah yang saling berebut membuat hadis-hadis untuk menguatkan Di unduh dari B B B u u u k k k u u u u u S S i s s s w w w w a w a K K e e e e l a s X X I 24 eksistensi kelompok masing-masing. Setelah perintah dari gubernur Madinah atas instruksi dari khalifah Umar bin Abdul Aziz, maka berangkatlah sahabat-sahabat nabi dan beberapa thabiin untuk mencari dan menyeleksi hadis-hadis nabi. mam- imam hadis berjuang dngan sungguh-sungguh, sabar dan istiqamah di dalam mencari dan melacak sebuah hadis. Mereka mengembara sampai di wilayah- wilayah yang setelah mengetahui bahwa ada sumber hadis di wilayah tersebut. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulanâbulan bahkan betahun-tahun mereka dengan sabar mencari dan mengejar informasi tentang keberadan sebuah hadis. mam-imam hadis yang sangat terkenal seperti Bukhari, Muslim, Nasai, Turmizi, Ahmad bin ambal dan Daruqutni. Mereka ini yang dengan serius meluangkan waktunya mencari, melacak dan selanjutnya menyeleksi dan menghimpun hadis. Dengan upaya keras dari para imam-imam hadis ini, maka jadilah kitab- kitab hadis yang sering kita baca sebagai rujukan. 2. PROSES PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN MASA BANI UMAYYAH I Perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman permulaan slam termasuk masa Bani Umayyah meliputi bidang yaitu bidang Diniyah, bidang Tarikh dan bidang Filsafat. Pembesar Bani Umayyah tidak berupaya untuk mengembangkan peradaban lainnya. Akan tetapi Bani Umayyah secara khusus menyediakan dana tertentu untuk pengembangan ilmu pengetahuan, para khalifah mengangkat ahli-ahli cerita dan mempekerjakan mereka dalam lembaga-lembaga ilmu berupa masjid-masjid dan lembaga lainnya yang disediakan oleh pemerintah. Kebijakan ini mungkin karena didorong oleh beberapa hal . Pemerintah Bani Umayyah dibina atas dasar kekerasan karena itu mereka membutuhkan ahli syair, tukang kisah dan ahli pidato untuk bercerita menghibur para khalifah dan pembesar istana. . Jiwa Bani Umayyah adalah jiwa Arab murni yang belum begitu berkenalan dengan ilsafat dan tidak begitu serasi dengan pembahasan agama yang mendalam. Mereka merasa senang dan nikmat dengan syair-syair yang indah dan khutbah-khutbah balighah berbahasa indah . Para ahli sejarah menyimpulkan bahwa perkembangan gerakan ilmu pengetahuan dan budaya pada masa Bani Umaiyyah memfokuskan pada tiga gerakan besar yaitu; a Gerakan ilmu agama, karena didorong oleh semangat agama yang sangat kuat pada saat itu. Di unduh dari S S Se ej a r ra a h h K K Ke b bu u d da a y y y a a a an I sl a am m m K Kur iik u ul um m 2 13 25 b Gerakan ilsafat, karena ahli agama diakhir daulah Umayyah terpaksa menggunakan ilsafat untuk menghadapi kaum Nasrani dan Yahudi. c Gerakan sejarah, karena ilmu-ilmu agama memerlukan riwayat. 3. PERADABAN YANG TUMBUH PADA MASA BANI UMAYYAH I
proses kodifikasi hadis masa khalifah umar bin abdul aziz